SINABUNG MELETUS : Menimbang kapasitas vs mabuk informasi

Oleh. Ananta Politan Bangun*

Implikasinya, para penduduk setempat terpaksa memakai kembali label pengungsi, dan dengan panik melarikan diri tak sampai sehari setelah mereka diantar pulang.

Letusan ketiga Gunung Sinabung, Senin (30/08/2010). (KAROPress/Adhif)

Pasca letusan kedua gunung Sinabung, pada Minggu (30/8), salah satu stasiun televisi swasta melaporkan satu liputan yang mencengangkan. Bisa disebut membuat geleng-geleng kepala, bila melihat fakta sesudahnya. Dalam wawancara langsung tersebut, kepala daerah Tanah Karo, DDS, menganjurkan warganya untuk kembali ke kediamannya masing-masing.

Beliau menilai situasi di sekitar gunung Sinabung telah aman. Alasannya?

Setelah letusan kedua (hari Minggu, 30/8), hampir semua materi vulkanik yang terdapat di dalam perut gunung Sinabung telah dimuntahkan, ujarnya yakin, sembari menunjukkan gestur tangan dari perut naik ke hadapan wajah.

Skeptis pun menyeruak, melahirkan tanya yang paling mudah dicerna :

Apa kapasitas Kepala daerah tersebut menyampaikan pernyataan demikian, ditilik dari riwayat pendidikan maupun karirnya?

Apakah beliau mengutip pernyataan dari aparatur ahli, semisal dari badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi?

Bukankah kepala PVMBG Surono mengakui blunder beberapa jam berselang gunung Sinabung melelehkan larva dari bibir kawahnya pada Sabtu (29/8)?

Namun, Kepala daerah tersebut belum mengoreksi komentarnya saat gunung Sinabung kembali meletus pada Jumat (3/9). Letusan tersebut bahkan dilaporkan lebih dahsyat dari dua letusan sebelumnya.

Implikasinya, para penduduk setempat terpaksa memakai kembali label pengungsi, dan dengan panik melarikan diri tak sampai sehari setelah mereka diantar pulang.

Mudah dimahfumi, bila masyarakat masih dimabukkan dengan pernyataan yang dilontarkan seorang tokoh melihat dari tingkat jabatan yang sedang atau pernah disandangnya. Di lain pihak, si pelontar statement (pada umumnya figur yang telah dikenal khalayak) juga turut mabuk. Kondisi yang tanpa disadari mengeluarkan rentetan kata-kata merasuki pemahaman si pembaca atau pendengar berita.

Dalam satu sesi pelatihan jurnalistiknya, pemimpin redaksi Tribun Batam Febby Mahendra Putra kerap mengingatkan perlunya kejelian seorang wartawan dalam memilah narasumber yang layak diwawancara dipandang kapasitasnya.

Tantangan tersebut muncul dalam momentum dimana kalangan wartawan akan diburu sendiri oleh narasumbernya guna memberikan komentar atas suatu peristiwa atau wacana. Konteks Pemilu merupakan contoh momen yang tepat.

Beranjak dengan kacamata masyarakat yang mengonsumsi pemberitaan dari media yang terus dimutakhirkan dari skala hari, hingga dapat mencapai skala detik berkat kemajuan teknologi, (bisa jadi) akan kewalahan menampung tsunami informasi berseliweran ini.

Persoalan tersebut dapat diciutkan dengan menguji kapasitas dari narasumbernya. Sebab, tidak semua yang telah tertayang maupun tercetak, memang laik dicerna sebagai kue informasi. Kelengahan inilah yang secara kasat mata tak ditampak masyarakat. Akhirnya bungkus pencitraan pun ikut tertelan bersama berita tersebut.

Kasus paling nyata adalah pro kontra menyikapi konflik dengan Malaysia. Komentar dan tanggapan tokoh publik melakukan tindakan yang menuruti emosi, kerap mendapat porsi lebih. Mengapa? Karena empati seseorang lebih mudah terpancing dengan pemahaman hati daripada pemahaman logika. Sehingga, wajar saja bila tema ganyang Malaysia lebih berterima daripada salam damai yang diwujudkan dalam gambar kartun Unyil-Ipin, hasil kreasi mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri Jiran tersebut.

Adakah representasi pertanggungjawaban para pelontar pernyataan tersebut akan sirna dengan ucapan maaf, bila didapati bahwa implikasi dari pernyataan tersebut akan merugikan masyarakat. Frase-frase ini kodrat alam ataupun pemerintah tidak tegas pada akhirnya menjadi variabel penghibur sesudah pernyataan yang berpengaruh tersebut disampaikan.

Kehadiran tulisan ini bukan untuk menjustifikasi bahwa media tertentu salah, karena penulis sendiri juga berada di dapur yang sama. Namun, tak lebih dari upaya menyeka mata dan membasuh telinga kita saat duduk menikmati hidangan informasi tersebut. Masyarakat tentu harus berubah, dengan bijak menyortir informasi yang berguna mereka.

Sebaliknya, sikap stagnan atas pemahaman berita membuat masyarakat tetap mabuk dengan informasi tersebut. Setidaknya dengan bersikap adaptif, masyarakat bisa bergandengan dengan kalangan pers. Keduanya perlu bijak dalam memfilter informasi yang laik dengan memilah kapasitas sang narasumber.

Sebagai penutup, catatan wartawan senior Kompas Luwi Ishwara akan tepat menggambarkan peran harmonis kedua belah pihak. Pers dan masyarakat.

Wartawan harus terjun ke lapangan, berjuang, dan menggali hal-hal yang eksklusif. Ketidaktahuan membuka kesempatan korup, sedangkan pengungkapan mendorong perubahan. Masyarakat yang mendapat informasi yang lengkap, akan menuntut perbaikan dan informasi. (kp/reg)

*Penulis merupakan Jurnalis dan blogger. Tinggal di Medan, Sumatera Utara.

2 Responses to SINABUNG MELETUS : Menimbang kapasitas vs mabuk informasi

  1. Taufan Agung Ginting (via facebook) says:

    bagaimana sikon hari ini ?

  2. Jessie Maran (via facebook) says:

    barusan ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: