Ribuan wisatawan padati Berastagi

MACAT : Kemacatan tampak di sepanjang Jalan Veteran Berastagi pada liburan terakhir tahun baru 2010, Minggu (03/01/2010). (KAROPress/Adhif)

Berastagi (KAROPress)

Ribuan wisatawan lokal dan domestik memadati obyek wisata Berastagi kabupaten Karo, Minggu (03/01/2009). Tingginya minat wisatawan untuk berkunjung merupakan dampak dari liburan tahun baru 2010 yang berlangsung selama beberapa hari.

Pantauan KAROPress di Berastagi, dari beberapa obyek wisata yang ada, kunjungan terbanyak di Puncak Gundaling. Keramaian ini menyebabkan macatnya seputaran Tugu Perjuangan Berastagi akibat kendaraan yang keluar masuk.

Mencegah kemacatan lebih parah, jalan menuju Puncak Gundaling dibuat menjadi satu arah. Kelokan di Tugu Perjuangan dari arah Medan juga ditutup. Akibatnya, wisatawan yang berasal dari arah Medan harus mengitari kota Berastagi lewat Jalan Veteran lebih dahulu untuk menuju Puncak Gundaling.

Wisatawan yang memanfaatkan waktu liburan itu bukan hanya wisatawan lokal saja, tapi beberapa wisatawan dari daerah tetangga juga ikut memadati kawasan tersebut. Sebagian besar adalah wisatawan keluarga yang diantaranya, berasal dari Medan, Deli Serdang, Tanjung Balai, Batu Bara dan Pematang Siantar.

Beberapa berasal dari luar provinsi Sumatera Utara, dibuktikan dari banyaknya kendaraan berplat luar daerah yang diparkir. Sejumlah wisatawan mancanegara pun terlihat hilir mudik di pusat kota Berastagi.

Pendapatan Meningkat

Peningkatan kunjungan wisata yang sudah berlangsung sejak Kamis (31/12) ini juga seiring dengan meningkatnya pendapatan warga setempat hingga mencapai lebih dari 500 %. Khususnya, pedagang dan penjual jasa di lokasi tersebut.

Biasanya saya dapat Rp 100.000 sampai Rp 200.000 perharinya untuk hari libur biasa. Kali ini, bisa mencapai Rp 500.000 sampai Rp 800.000. Lumayan lah bang sekali dalam setahun, ujar Akbar (26), pemilik Sado yang mengaku biasa mangkal di Puncak Gundaling ini.

Bahkan, sejumlah warga menggunakan kesempatan ini untuk menjadi tukang parkir dan pedagang dadakan. Khusus tukang parkir, merupakan pemuda di sekitar wilayah tersebut. Sementara, pedagang dadakan didominasi kaum ibu yang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga.

Kami cuma jadi tukang parkir kalau lagi ramai begini saja. Mumpung kerjaan juga libur, ujar Rinto (24), warga desa Gongsol yang kesehariannya bekerja sebagai buruh bangunan. (kp-par)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: