Pria muda ingatkan Gunung Sinabung akan longsor

Gunung Sinabung (imageshack)

Gunung Sinabung (imageshack)

Namanteran (KAROPress)

Warga yang tinggal di pinggiran daerah tujuan wisata (DTW) Danau Lau Kawar dan wisatawan lokal, akhir-akhir ini heboh setelah menemukan seorang pemuda bertapa di puncak gunung Sinabung.Bahkan setelah beberapa warga dan pendaki gunung, 14 Agustus 2009 melihat langsung pemuda ditaksir berusia 23 tahun, tinggi badan sekitar 165 cm duduk bersemedi di puncak gunung sampai 29 Agustus 2009 silam, menjadi pembicaraan hangat di tengah-tengah masyarakat dan para wisatawan yang datang ke DTW Danau Lau Kawar.

Hal ini dikatakan Pelin Sembiring dan Aditianna Sembiring alias Bapa Marianti kepada wartawan, Kamis (03/09/2009) di Desa Laukawar, Kecamatan Namanteran, Karo.

Pelin dan Bapa Marianti didampingi sejumlah wisatawan pendaki gunung mengatakan, saat mereka melihat pemuda duduk bersemedi 14 Agustus 2009 silam, tidak menaruh curiga apa-apa. Namun setelah kembali mendaki gunung, Sabtu (29/8), mereka masih menemukan pemuda tersebut duduk bersemedi di puncak gunung dengan membuat tenda darurat dan di sekitar tenda ditemukan sebuah kuali.

Pemuda tersebut mengaku sedang bertapa dan tidak akan turun sebelum selesai masa bertapanya selama 40 hari. Bahkan saat diajak Pelin dan Bapa Marianti turun dari puncak gunung, pemuda tersebut menolak.

Kalau saya turun dan tidak menyiapkan masa bertapa saya di puncak ini sampai 40 hari, bisa menimbulkan bencana bagi daerah ini. Tanah Karo ini bisa hancur dan Gunung Sinabung ini akan dapat longsor, ujar pemuda ini mengingatkan warga yang menemuinya.

Waktu kami temui pertama kali, pemuda ini sangat sopan dan ramah. Kami awalnya tidak menaruh curiga kalau dia sedang bertapa. Setelah kedua kalinya kami naik dan kami jumpai duduk bersemedi ditambah pula pengakuannya sendiri baru kami sadari dia sedang bertapa, ujar Bapa Marianti dan Pelin.

Sampai hari Kamis (3/9), pemuda tersebut masih di puncak. Belum ada warga melihatnya turun atau lintas dari Lau Kawar, tambah Pelin.

Namun sedikit kami herankan lagi. Waktu pemuda itu kami foto melalui HP bersama seorang wisatawan berdiri bersama, saat dicucikan, hanya pemuda itu yang tampak. Sedangkan wisatawan pendaki gunung yang berdiri di sebelahnya tidak nampak. Jadi merinding juga kami dibuat foto ini, tambah Pelin. (sib)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: