SINABUNG MELETUS : Empati hampa di tempat tertutup

Oleh. Ananta Politan Bangun*

Mengapa Pemkab Karo menutupi keadaan yang sebenarnya pada Presiden SBY? Mengapa juga pengabaian akan kondisi ekologi sekitar gunung Sinabung belum diungkit?

Gunung Sinabung. (KAROPress/Adhif)

Dalam interaksi sehari-hari saya dengan keluarga maupun dengan teman sesama suku Karo, maupun yang fasih berbahasa daerah ini, ada satu petuah yang kerap diujarkan dalam lingkup perbincangan resmi maupun tidak. Uniknya, nasihat itu sendiri hampir mendekati wujud adagium (pribahasa atau pepatah-adm), yakni: Ula kataken si tuhuna, tapi kataken lah si tengtengna.

Hasil alih bahasa yang mungkin bisa berterima khalayak berbahasa Indonesia adalah janganlah mengungkap fakta/hal sebenarnya, namun sampaikanlah yang mengena di hati orang. Menurut saya, petuah inilah yang menjadi dasar sifat maupun sikap masyarakat suku Karo dalam kehidupan bermasyarakatnya, berupaya menjaga perasaan setiap orang yang berinteraksi dengan mereka, seringkali dengan pribadi atau komunitas yang berbeda.

Namun, benarkah praktik adagium tersebut hanya berlaku di masyarakat Karo saja? Atau sikap yang permisif ini malah mulai menjalar tangga pemangku kepentingan negeri ini?

Membaca berita kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dari rekan koresponden portal Waspada Online di Kabupaten Karo, saat mengunjungi para pengungsi menyusul lima letusan gunung Sinabung yang kontroversial tersebut. Kemungkinan besar dapat menjawab pertanyaan pertama.

Dari hasil liputannya terdapat satu cuplikan berita yang menggelitik : staf pemerintah daerah telah menata apik suasana kamp pengungsian sedemikian rupa. Tidak hanya pasien yang dirawat dengan telaten, namun juga anak-anak di wilayah kamp yang ditemani bermain dan bernyanyi oleh petugas khusus dari pemerintah daerah. Tiba-tiba semua tampak sempurna, demikian dijabarkan dalam satu pemberitaan portal Kompas.com (dan di Waspada Online-adm).

Kata tiba-tiba agak hiperbolik bila disandingkan dengan artian sesuatu yang tidak beres. Sebab, sejumlah letusan gunung Sinabung yang tiba-tiba menyentakkan warga setempat dari tidur nyenyaknya tak kurang dari tiga kali, hingga saat ini belum dikaitkan dengan sesuatu yang tidak beres. Namun, tak jauh dari frasa kehendak Tuhan dan peristiwa alam.

Kembali ke artian tiba-tiba tersebut, menandakan situasi yang berbeda pada sebelum dan sesudah kedatangan Presiden. Kabar baik bagi pencanang gagasan tersebut, Presiden Yudhoyono mengaku puas dengan kinerja unit pemerintahan tersebut. Tetapi, adakah upaya menutupi fakta tersebut sudah benar dalam mendapat empati?

Bila skenario di atas berlanjut ke episode berikutnya, kemungkinan besar situasi di sekeliling kamp akan bermetamorfosis terbalik. Aspirasi yang sebenarnya dapat disuarakan, teredam oleh kepura-puraan dalam tempo beberapa jam saja.

Eliminasi fakta yang masih segar dalam ingatan kita, bagaimana ketiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) yang ditahan Polisi Diraja Malaysia pada awalnya mengaku diperlakukan dengan baik atawa sopan oleh pihak kemanan negeri Jiran. Seperti sedang berpelesir, ungkap mereka saat ditanyai wartawan.

Namun, tak jauh berbeda dengan sentakan yang diakibatkan letusan gunung Sinabung, publik juga kaget saat ketiganya bernyanyi terkait undangan Komisi I DPR RI membahas kesaksian mereka saat akan, selama, dan setelah mereka ditahan. Semua adegan-adegan yang mereka sebut kurang manusiawi pun dibeberkan penuh semangat di ruang rapat Komisi I tersebut.

Tidak dapat dipungkiri, bila mayoritas dari masyarakat justru meragukan pengakuan bagai air di daun talas ini. Mengapa juga harus menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya, bila memang hal tersebut adalah fakta. Meski di sisi lain, ada juga yang menaruh simpati karena telah berani dengan lantang mengungkap pengalaman mereka selama berada di bawah penahanan Kepolisian Malaysia.

Jari keraguan pun tertuding ke pemerintah yang diduga kuat telah berupaya mengkondisikan ketiganya agar tidak keceplosan bicara yang sebenarnya, namun sebaliknya adalah untuk memberi keterangan yang memberi rasa senang atau berterima oleh kedua pemerintah negara. Maka tidak berlebihan bila wartawan perang New York Times Homar Bigart tidak selalu mempercayai laporan pemerintah, utamanya perihal konflik.

Ketika seorang wartawan muda di harian tersebut menyarikan berita dari siaran pers pemerintah mengenai perang Vietnam, Bigart sangat kaget mendapati artikel tersebut dimuat di halaman muka korannya. Jam terbang senioritasnya selama di lapangan perang Vietnam, telah menempa pemahamannya bahwa pemerintah AS kerap melebih-lebihkan gambaran mengenai perang tersebut. Hal yang patut ditiru, Bigart merasa perlu membawa watawan muda itu ke tempat kejadian guna membuktikkan laporan tersebut tidak benar.

Setelah kekagetan yang bertubi-tubi ini, masih tersisa sejumput kata tanya di benak saya dan mungkin beberapa publik : Mengapa?

Mengapa Pemkab Karo menutupi keadaan yang sebenarnya pada Presiden SBY? Mengapa juga pengabaian akan kondisi ekologi sekitar gunung Sinabung belum diungkit? Bukankah desakan perekonomian yang kritis mendorong wilayah pertanian menggurita hingga kaki gunung Sinabung? Mengapa juga pemerintah RI tidak berani tegas dengan Malaysia? Mengapa mudah sekali permisif dengan kesalahan pihak luar negeri?

Dan banyak rangkaian tanya dari sejumput kata tanya tersebut, yang hanya bisa dijawab lantang dari benak kita masing-masing. Sayangnya, saat ini dia masih tak bermulut.

Lambat laun pemahaman saya pada petuah tradisional tersebut, harusnya ditempatkan pada posisi yang benar. Terbuka. Bahwasanya, empati hampa mengendap dalam kepura-puraan. Meski, tanggapan mungkin lahir dari keterbukaan adalah sikap antipati yang temporer, dia akan beradaptasi. Sebagaimana, sahabat kita penaah berkata anda tak akan tahu manisnya madu, bila tak mencicipnya sendiri. Berarti, kita juga tidak akan tahu apa yang dialami seseorang, bila tak mengamatinya secara terbuka olah kedua pihak.

Dari sekian ketertutupan tersebut, setidaknya ada satu yang masih diterima logika. Yakni, saya harus menutupi sebagian wajah dan pernafasan, dengan masker, dari abu vulkanik Sinabung bila ingin mendatangi tempat tersebut. (kp/reg)

*Penulis adalah jurnalis dan blogger. Tinggal di Medan, Sumatera Utara.

About these ads

One Response to SINABUNG MELETUS : Empati hampa di tempat tertutup

  1. ananta says:

    bujur melala, sen. ndigan2 kutraktir kam bakso iga-iga i Medan. hehehe.

    KAROPress: :) :) :)
    OK Sen….
    ndigan2 kari aku ku Medan…
    hehehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s